Pengumuman:
#YukDirumahSaja, mari kita waspada Covid-19 dengan menjaga kebersihan dan melakukan social distancing.
Solusi Cerdas Terpercaya

Berita BKCU

Pelatihan Kepemimpinan Transformatif

Pelatihan Kepemimpinan Transformatif

Tanggal 16 s.d 18 Januari 2021 bertempat di Wisma Marie Joseph, Pontianak diselenggarakan pelatihan kepemimpinan transformatif yang dihadiri 42 orang peserta dari unsur Pengurus, Pengawas, Penasihat, dan Manajemen Puskopdit BKCU Kalimantan Skd. Pelatihan ini difasilitasi oleh RD. Dr. Fredy Rante Taruk, Penasihat Puskopdit BKCU Kalimantan Skd. 

Modul pelatihan kepemimpinan transformatif merupakan solusi bisnis ke-25 yang dikeluarkan oleh Association of Asian Confederation of Credit Unions (ACCU). Pelatihan ini diharapkan mampu memberikan pengetahuan dan keterampilan agar model kepemimpinan yang kembangkan oleh para pemimpin di CU dapat memastikan keberlanjutan Gerakan CU di masa yang akan datang. Pelatihan ini baru pertama kali diadakan dalam Gerakan Puskopdit BKCU Kalimantan Skd.

Menurut Romo Fredy - sapaan akrab untuk fasilitator, idealnya pelatihan ini dilakukan secara tatap muka agar interaksi dan pendalaman materi dapat dilakukan secara maksimal. Namun karena situasi belum memungkinkan, maka pelatihan diselenggarakan secara virtual dan tatap muka. Fasilitator dan peserta yang berdomisili di luar Kalimantan Barat mengikuti pelatihan secara virtual sedangkan yang berdomisili di Kalbar mengikuti pelatihan secara tatap muka. Sejak merebaknya pandemi COVID-19 bulan Maret 2020, kegiatan secara virtual sudah lazim dalam Gerakan Puskopdit BKCU Kalimantan Skd.

ACCU menyadari bahwa diera ini diperlukan kepemimpinan yang transformatif agar CU dapat semakin berkembang, terjalinnya sinergi dan kerjasama antar CU, bukannya persaingan. Modul ini merupakan lanjutan dari modul Managing Yourself For Others (MYFO)-solusi bisnis nomor 22.

Pemaparan materi oleh fasilitator, latihan individu, pemutaran video, dan sharing antar peserta merupakan metode yang digunakan dalam pelatihan kepemimpinan transformatif. Dengan metode ini, peserta dapat memahami materi dari modul ini. 

Diawal pelatihan, fasilitator mengajak peserta untuk menyadari siapa pemimpin menurut masing-masing peserta. Latihan ini merupakan cara melihat atau mengenali pemimpin dilingkungan organisasi yang mampu menjadi pemimpin transformatif, yakni orang yang memiliki pemikiran ke depan, memberikan ide-ide perubahan dan mampu menggerakkan orang untuk berubah. 

Latihan kedua adalah mengenali diri sendiri. Peserta diminta untuk memilih salah satu jenis benda yang mampu menjelaskan siapa dirinya. Salah satu peserta, Masius memilih lilin. Lilin menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang siap berkorban demi keberlanjutan organisasi, papar Masius. 

Romo Fredy menegaskan bahwa setiap orang dalam organisasi Puskopdit BKCU Kalimantan Skd harus mampu menyadari kualitas pribadinya. Credit Union (CU) adalah entitas unik yang perlu diurus oleh orang yang memiliki kepemimpinan transformaif. Untuk menggerakkan CU, perlu orang-orang yang mengerti untuk menghantar orang pada kualitas hidup yang baik, tegas Romo Fredy. Fasilitator menegaskan bahwa setiap orang memiliki atribut pribadi yang berkualitas dan setiap orang membagikan atributnya untuk berkontribusi dalam mengembangkan organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Satu atribut unik  anda bawa ke CU untuk mencapai misi membantu orang membangun kehidupan yang lebih baik.

Pemimpin transformatif adalah gaya kepemimpinan di mana seorang pemimpin bekerja dengan stafnya untuk mengidentifikasi peruban yang diperlukan, menciptakan visi untuk mengarahkan perubahan melalui inspirasi, dan melakukan perubahan bersama demi tercapainya tujuan organisasi. Pemimpin transformatif fokus pada kebutuhan orang lain, bukan kebutuhan pemimpin.

Peserta diajak sharing tentang 10 karakteritik kepemimpinan yang tranformasional. Kesepuluh karakteritik terdiri dari memantau tingkat ego mereka, manajemen diri, kemampuan untuk mengambil risiko yang tepat, membuat keputusan sulit, membagikan kesadaran organisasi kolektif, inspirasional, menerima ide-ide baru, kemampuan beradaptasi, proaktif, dan memimpin dengan visi. Kepemimpinan transformatif diuji oleh waktu, terkait keputusan yang diambil baik atau buruk akan ditentukan oleh waktu, papar Romo Fredy.

Ideologi Fredrich Willhem Raiffeisen memberikan dampak bagi masyarakat di seluruh dunia. Pemikiran Raiffeisen sangat jelas memperbaiki kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Agar orang keluar dari kemiskinan, Fredrich Willhem Raiffeisen mengajarkan prinsip yang dikenal 3S, yakni self help, self governance, dan self responsibility. Tiga prinsip ini akan menghantar orang mencapai hidup yang berkualitas. Dampak CU harus diceritakan kembali dan dihidupkan kembali di dalam hati seluruh insan CU. Insan-insan  CU harus selalu menggemakan dan menjadikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip CU model Raiffeisen agar CU berbeda dari lembaga keuangan lainnya. Gagasan Raiffeisen begitu kuat sehingga UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB) mengakuinya sebagai ide Raiffeisen sebagai Warisan Budaya Tak Berwujud. Pendalaman ide Raiffeisen ini pada sesi kedua pelatihan.

Latihan ketiga adalah peserta diajak untuk mengidentifikasi level kepempinannya. Level kepemimpinan ini berdasarkan 5 level kepempinan John C. Maxwell, yakni tingkat 1-jabatan, tingkat 2-perkenanan/hubungan, tingkat 3-produktivitas, tingkat 4-mengembangkan orang lain, dan tingkat 5-puncak. Menurut John C. Maxwell bahwa tidak banyak orang di dunia ini yang mampu mencapai level tingkat 5. Untuk menilai tingkat kepemimpinan, peserta mendapatkan alat kerja untuk mengukur tingkat kepemimpinannya, sebagai alat penilaian diri. Pada latihan keempat dilakukan penilaian oleh atasan dan oleh bawahan untuk menilai tingkat kepemimpinan seorang pemimpin. 

Sesi berikutnya membahas tentang tujuan hidup. Pada sesi ini dilakukan tes tujuan hidup. Rating skor 20 – 100 dengan makna untuk skor kurang dari 50 menunjukkan bahwa anda mengalami “kekosongan eksistensial”, kurangnya makna atau tujuan dalam hidup anda sekarang. Pada sesi ini mengajak peserta untuk menyadari bahwa seorang pemimpin yang trasformasional adalah pemimpin yang melakukan intervensi diri secara integral (utuh) agar memiliki arah hidup yang jelas dan berguna bagi orang lain.Tujuan hidup tidak berpusat pada diri sendiri. Untuk menemukan tujuan hidup, kita harus mampu mengenali passion dan karunia yang kita miliki. Orang yang memiliki tujuan hidup yang melampaui dirinya sendiri (tidak berpusat pada diri sendiri) akan memiliki karir. Sukses berarti ketika kita mampu menambah nilai kepada orang lain.

Romo Fredy menegaskan bahwa organisasi yang baik harus didukung oleh orang-orang yang memiliki sikap dan prilaku yang baik. Tujuan hidup merupakan evolusi. Pemimpin CU harus menyadari bahwa hidup harus menjadi panggilan untuk melayani. Pemimpin tidak sebatas terkait jabatan, tetapi juga bagaimana kita melaksanakan pekerjaan dengan maksimal untuk memberikan hasil maksimal melalui pengelolaan diri yang baik.  Relawan CU harus dapat menemukan tujuan mereka dalam melayani di credit union. 

Pelatihan kepemimpinan transformatif diprioritaskan untuk pengurus dan general manager/manager di CU, agar mampu menyentuh aspek yang tak terlihat, seperti sikap, persepsi, norma kelompok, dan lain sebagainya, tidak hanya sekedar membuat kebijakan semata. Tata kelola tidak terbatas tentang kebijakan, tetapi harus dimulai dari cara berpikir atau mutu personal aktivis CU. Tata kelola CU akan buruk jika melihat pekerjaan di CU sebagai gengsi dan kekuasaan. Kepemimpinan transformasional jika dihayati dan diterapkan akan membawa perubahan dalam Gerakan CU.

Semoga dengan solusi bisnis ini akan semakin mampu membawa aktivis CU, baik dilingkungan Puskopdit BKCU Kalimantan Skd maupun CU Primer menyadari pentingnya kepemimpinan yang transformatif demi kemajuan dan keberlanjutan Gerakan CU dan peningkatan mutu hidup anggotanya.

Salam Solusi Cerdas Terpercaya,

 

Erowin 

 

Share this Post:
Ditulis oleh Erowin
General Manager Puskopdit BKCU Kalimantan

Artikel Terkait: